Muslim Hibrida

Muslim Hibrida

Distorsi Genetik dalam Pemikiran Islam Liberal-Sekuler

Harga: Rp. 155.000,00

Judul Buku: Muslim Hibrida
Distorsi Genetik dalam Pemikiran Islam Liberal-Sekuler

Penulis: 

Muhammad Alfarisi

Penerbit: Cerdas Akademika Nusantara
Tahun Terbit: 2026
Jumlah Halaman: xii + 236 hlm
Ukuran Buku: A5
Jenis Kertas: BP 72gr
Jenis Cover: Glossy Press
ISBN: Dalam Proses

Deskripsi / Sinopsis:

Buku ini berangkat dari sebuah kegelisahan intelektual: mengapa semakin banyak muslim yang tetap beridentitas Islam secara simbolik, namun cara berpikir, menilai, dan bersikapnya justru tunduk pada standar liberal dan sekular? Fenomena inilah yang dalam buku ini disebut sebagai Muslim Hibrida.

Istilah distorsi genetik dalam judul bukan sekadar metafora kosong. Dalam biologi, distorsi genetik merujuk pada perubahan struktur DNA yang menyebabkan organisme tetap hidup, tetapi kehilangan fungsi, arah, dan identitas aslinya. Buku ini menggunakan pendekatan serupa untuk membaca realitas pemikiran Islam kontemporer: Islam diperlakukan sebagai sistem hidup yang memiliki DNA konseptual berupa wahyu, aqidah, dan worldview tauhid. Ketika DNA ini disusupi oleh ideologi liberal-sekular, yang terjadi bukanlah perkembangan sehat, melainkan penyimpangan struktural.

Isi buku ini membedah bagaimana sekularisme dan liberalisme—yang lahir dari trauma sejarah Barat—masuk ke dalam dunia Islam melalui kolonialisme, pendidikan, wacana akademik, dan gerakan intelektual modern. Pembaca diajak mengenali anatomi Muslim Hibrida: ciri-cirinya dalam aqidah, syariat, akhlak, bahasa, hingga sikap politik. Islam tetap diakui, tetapi wahyu ditundukkan pada akal; syariat diambil selektif; kebenaran dipahami relatif; dan nilai-nilai Barat dijadikan standar etik universal.

Melalui analisis historis, epistemologis, dan ideologis, buku ini menunjukkan bahwa liberalisasi Islam bukan sekadar perbedaan pendapat fiqh, melainkan rekayasa pemikiran pada level genetik—mengubah cara Islam memahami kebenaran, ilmu, kebebasan, dan otoritas. Inilah yang melahirkan Islam yang tampak ramah, modern, dan toleran, tetapi rapuh secara akidah dan kehilangan daya reproduksi peradaban.

Buku ini tidak berhenti pada diagnosis. Ia juga menawarkan jalan keluar: pemurnian aqidah, penguatan pendidikan berbasis adab, pembongkaran syubhat liberal-sekular, serta ajakan untuk kembali kepada Islam yang kaffah dan autentik. Sebagaimana organisme hanya dapat sehat jika DNA-nya terjaga, umat Islam hanya dapat bangkit jika worldview dan epistemologinya kembali berpijak pada wahyu.

Muslim Hibrida adalah peringatan intelektual sekaligus panggilan kesadaran: apakah kita sedang membangun peradaban Islam, atau justru menjadi hasil eksperimen ideologi asing yang menyamar atas nama pembaruan?